Ngariung di Sukabumi: Pelabuhan Ratu (Part:1)

Sebulan yang lalu, saya diajakin Kandy “Kunkun” Ramdan bareng Genk C MCL-1 jalan2 ke Bandung, lebih tepatnya lagi ke daerah Lembang. Sebenernya saya agak males kalo ke Lembang (Tangkuban Perahu, Ciater, dsb) karena saya sudah pernah kesana. Tapi karena Kunkun yang ngajak dan saya yang diandalkan untuk arrange acara maka saya ayo-ayo aja. Saya paling suka kalo diandalkan dan saya memang berbakat membuat itinerary, wkwkwk :-).

Dua hari sebelum berangkat tiba-tiba ada beberapa orang yang mengundurkan diri, tinggal lah Kunkun, Ipunk, Dede, Ucup, Mang Ian, Pak Rahmat, dan saya. Gini ni kalo berangkat ramean, ada aja yang mengundurkan diri. Tapi untungnya masih bertujuh, jadi go ahead aja. Tadinya rencana mau berangkat dengan dua mobil tapi kini cukup dengan satu mobil saja. Tapi rencana berubah, Kunkun ngusulin ke  tempat lain aja yang ga terlalu rame tapi tetep yang dingin2 juga. Kunkun meminta saya googling Sukabumi.

Sebenernya saya sudah book hotel di Lembang, tapi karena penggantinya Sukabumi maka saya ayo2 aja secara saya belum pernah kesana. Karena udah mepet, saya terpaksa googling sambil kerja. Googling di jam kerja rada2 repot karena saya harus selalu waspada kalo ada bos, secara posisi monitor saya bisa dilihat langsung oleh siapa saja yang lewat, hehehe. Tapi saya sih sudah cukup expert, tinggal buka banyak window dan multi-tab yang isinya kerjaan. Jadi kalo tiba2 ada yang lewat tinggal buka window kerjaan, wkwkwk.

Saya orangnya selalu pengen well prepared. Sebelum berangkat biasanya saya sudah menyiapkan info tempat yang dituju, peta sudah di print, hotel udah dipesan, dll. Tapi kali ini karena sedang sibuk dan dadakan jadinya sedikit keteteran. Saya baru sempet nge-print info-info after office hour, itupun ga sempet nge-print warna krn ruangannya keburu dikunci, hehehe. Tapi agar lebih afdol akhirnya saya memutuskan bawa laptop dan modem aja biar bisa sambil googling on the spot (jarang2 saya jalan2 bawa laptop, hehehe).

Sabtu dini hari jam 00 kami berangkat. Duduk paling belakang ada Pak Rahmat dan Ipunk, di tengah diisi bertiga oleh Dede, Ucup, dan Mang Ian. Dan di depan ada Kunkun dan saya (Kunkun yang nyetir dan saya navigator-nya :-)). Yang di tengah sih sepertinya sempit2an banget, Mang Ian badannya lumayan lebar, trus Dede badannya lumayan jangkung sehingga kakinya ditekuk2 gitu, hehehe. Tapi karena mau having fun sempit2an pun ga masalah, hehehe.

Image

 Melalui jalur tol Merak-Tangerang-Jakarta perjalanan cukup lancar, tak banyak kendaraan pribadi yang melintas karena memang sudah sangat larut (lebih tepatnya sudah dini hari). Tapi jam-jam seperti ini adalah jam operasionalnya kendaraan2 besar sehingga jalanan pun tak sepenuhnya bebas hambatan. Jam 2 pagi kami sudah masuk tol dalam kota dan perjalanan berlanjut ke tol Jagorawi sampai kemudian exit di ciawi (jika lurus ke arah Puncak dan ke kanan ke arah Sukabumi).

Walau malam semakin larut suasana di dalam mobil masih saja rame. Kunkun yang hobinya memberi “umpan” selalu saja berkomentar tentang apa yang dilihatnya, dari motor yang digantung, cewek yang melintas, bahkan sampai Pak Agus yang ga ada disitu pun tak lupa jadi korban bully-annya. Ipunk dan Mang Ian adalah si penerima “umpan” yang jago menimpali cerita, hehehe. Ucup dan Pak Rahmat tipe “PELOR”, nemPEL moLOR, baru beberapa menit jalan langsung molor, bahkan di jalan berlubang pun masih bisa tidur dengan nyaman sepertinya, hehehe. Dede si pendiam yang ga banyak omong, pertamanya duduk di pinggir, tapi karena kasian ngeliat posisi tidur Ucup yang miring2 ke Mang Ian karena dia ga punya sandaran kepala (duduk di tengah) akhirnya mengalah tukeran tempat duduk (Dede yang duduk di tengah). Tapi setelah duduk dipinggir pun ternyata Ucup tidurnya masih miring2, mungkin tidur di pundak lebih enak kali ya, hehehe

Tujuan pertama kami adalah Pantai Pelabuhan Ratu. Rutenya dari exit Tol Ciawi terus mengikuti Jalan Raya Sukabumi, kemudian nanti ketika sampai di Cibadak belok kanan ambil jalan menuju Cikidang. Jalan Raya Sukabumi ini kondisinya tidak cukup baik, banyak lubang dimana-mana. Truk-truk yang melintas dari dua arah juga cukup banyak. Kalau saya lihat isinya kebanyakan truk Aqua, pabrik Aqua memang di Sukabumi sih ya.

Jam 3 pagi kami masih melintasi Jalan Raya Sukabumi tapi suasana di mobil sudah mulai sepi. Ucup dan Pak Rahmat semakin lelap, Ipunk dan Mang Ian mulai tidur walau sesekali masih terbangun, Dede masih terjaga sih tapi tetep dia ga banyak omong. Saya juga sudah diserang kantuk berat karena akumulasi capek seminggu trakhir. Tapi ga mungkin saya biarkan Kunkun nyetir sendirian, kalau dia ngantuk juga dan tiba2 lengah bisa berabe. Makanya  kami ngobrol2 terus sambil makan permen (mulut saya sampe bosen nguyah permen, hehehe). Sebenarnya kalau ada tempat istirahat atau warung kopi pengen mampir  dan istirahat, tapi karena semakin jauh semakin sepi dan tidak ada tanda2 tempat istirahat makanya perjalanan kami lanjutkan saja.

Tanpa sadar kami sudah lewat Cibadak, GPS menunjukkan seharusnya kami belok kanan. Tapi saya tidak melihat ada jalan raya gede di sebelah kanan. Dan saya juga tidak melihat penunjuk jalan yang menyatakan “Pelabuhan Ratu” belok kanan. Karena sudah terlanjur bablas, maka kami tetap telusuri saja Jalan Raya Sukabumi tersebut, dari peta yang saya baca ada beberapa akses jalan untuk menuju Pelabuhan Ratu. Benar saja, setelah melewati jembatan ada penunjuk jalan yang menyebutkan “Pelabuhan Ratu”  ke arah kanan. Kami ikuti jalan yang bernama Perintis Kemerdekaan tersebut. Ujung jalan ini akan terhubung ke Jalan Pelabuhan Ratu. Panjang jalan ini sebenarnya hanya 15 km saja, tapi kondisinya sempit, gelap, berkelok-kelok, dan rusak parah. Ini yang membuat Kunkun harus ekstra hati-hati dan full konsentrasi. Badan yang sudah lelah ditambah kondisi jalan yang rusak parah begini membuat stress semakin meningkat, tapi untungnya Kunkun tetap sabar. Lebih dari 45 menit menyusuri jalanan sepi itu dan akhirnya hampir sampai di ujung jalan. Sebelum keluar jalan itu, di kanan jalan ada mesjid gede dan kebetulan waktu subuh telah tiba. Maka kami putuskan untuk Shalat Subuh disana sambil istirahat.

Image

Air wudhu-nya terasa sangat dingin, tapi tetap aja saya usapkan banyak2 ke muka untuk menghilangkan kantuk, lumayan seger sih jadinya. Tapi pas shalat badan tetep aja berasa ga kuat berdiri, ngantuk banget. Ditambah lagi imam-nya baca surat lumayan panjang membuat saya merem melek. Ga kuat banget pas berdiri, tapi kalo pas duduk biasa aja (apalagi pas sujud, enak banget bisa di merem2in agak lama, hehehe)

Di sebelah kanan masjid ada warung, si bapak pemilik warung habis shalat berjamaah juga. Kami samperin aja warung itu dan pesan kopi. Warung itu sih aslinya belum buka, ya iyalah ya masih jam 5 pagi soalnya. Airnya aja baru dipanasin di kompor pas kami pesan kopi, hehehe… Hampir satu jam kami disana dan perjalanan akan dilanjutkan kembali.

Jam 6, gelap sudah mulai berubah terang, kami sudah memasuki Jalan Raya Pelabuhan Ratu. Jalanan sudah tidak rusak parah seperti Jalan Perintis Kemerdekaan tadi. Rasa kantuk yang tadi melanda sudah menghilang. Teman2 yang dibelakang pun sudah mulai seger lagi sehingga suasana di mobil sudah mulai rame lagi, bully2-an pun dimulai lagi :-D. Kami kira jalanan ke pantai akan terus menurun, tapi ternyata masih turun naik dan berkelok-kelok. Belum ada tanda-tanda akan segera sampai, saya cek GPS masih sekitar 40 km lagi. Pemandangan kiri dan kanan jalan terlihat indah, pegunungan dan hijaunya hutan2 dikejauhan sungguh menyejukkan mata. Kami sengaja membuka jendela mobil dan mematikan AC demi merasakan alaminya udara pagi.

Image

Image

Image

Jam 7 pagi kami tiba di Pelabuhan Ratu. Di sebelah kiri jalan sudah terlihat hamparan pantai-pantai (ada juga tempat penampungan ikan). Kami terus menyusuri jalan pinggir pantai sampai  ke dekat Samudra Beach Hotel. Semua orang pasti tau kalau pantai ini terkenal dengan kisah Nyi Roro Kidul, makanya kami sengaja parkir di dekat hotel yang memiliki nuansa mistis itu. Kami istirahat sejenak di salah satu warung sambil memesan indomie.

Image

Menurut saya tak ada yang istimewa dari pantai ini (selain cerita mistisnya). Pun bagi saya cerita mistisnya itu juga bukanlah sebuah daya tarik yang membuat saya mengunjunginya. Kami ke tempat ini hanya karena sekalian saja, memanfaatkan waktu. Jadi Pantai Pelabuhan Ratu ini bukanlah tujuan utama kami. Ibarat kata pepatah, “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”, yang bisa dikonotasikan “mumpung jalan-jalan ke Sukabumi sekalian aja ke beberapa tempat yang cukup terkenal”.

Image

Image

Saya sendiri bukanlah orang yang asing dengan pantai. Saya tinggal di Cilegon yang notabene dikelilingi banyak pantai mulai dari Merak sampai Anyer . Saya juga pernah stay di Jogja yang juga memiliki banyak pantai. Menurut saya karakteristik Pantai Pelabuhan Ratu ini lebih kurang sama dengan pantai di Cilegon. Atau mungkin bisa juga dibilang mirip karakteristik Pantai Parangtritis di Yogyakarta (walaupun Pantai Parangtritis jauh lebih luas). Ya pada umumnya pantai-pantai di Pulau Jawa adalah pantai berpasir coklat/hitam, landai, dan berombak besar. Ombak-ombak gede itulah yang dicari para surfer dari berbagai penjuru dunia. Disini kami bertemu surfer dari Jepang yang sepertinya sudah terbiasa dengan Bahasa Indonesia.

Seperti yang sudah diketahui umum, ada satu kamar khusus di Samudra Beach Hotel itu yang diperuntukkan Nyi Roro Kidul, yaitu kamar 308. Walaupun kita bukan tamu hotel tersebut kita tetap bisa melihat-lihat atau mengadakan ritual, tapi ada tarifnya. Kalau hanya sekedar foto-foto atau looking forward kena charge 20ribu rupiah perorang dan kalau mau mengadakan ritual maka kena charge 300ribu. Sudah kayak tempat hiburan aja ya ada tiket masuknya, hehehe. Karena kami tidak tertarik untuk masuk  (terlebih lagi melakukan ritual) maka kami hanya bermain-main di pantainya saja.

Image

Image

Image

3 Jam di pantai rasanya sudah cukup, maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Sukabumi, lebih tepatnya daerah Cisaat, untuk check in di hotel yang telah saya pesan sebelumnya.

To be continued…

Categories: Jawa Barat | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Ngariung di Sukabumi: Pelabuhan Ratu (Part:1)

  1. Fatur tea

    Weh mantap nih gan, lanjutin lagi yah caritanya.pengen lihat km pake sepatu olah raga kaya atlit balap karung wkwkwkwk…

  2. Wkwkwk, baiklah baiklah… Tungguin yaa :-)

  3. ipunk

    mana kelanjutannya…posting lagi ya mas bro :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: