DI Yogyakarta · Indonesia

Hunting Sunrise di Puncak Suroloyo

Biasanya orang ramai berkunjung ke Pantai Parangtritis pada malam satu suro untuk melihat kegiatan ritual disana. Padahal masih ada satu tempat lagi yang juga mengadakan ritual malam satu suro juga, yaitu di Puncak Suroloyo.

Namun karena saya tidak begitu tertarik dengan ritual seperti itu maka saya tak harus menunggu malam satu suro untuk berwisata ke Puncak Suroloyo :-P. Saya hanya tertarik untuk hunting sunrise di bukit tertinggi di pulau jawa ini

Seharusnya  trip ke Puncak Suroloyo ini sudah terjadi beberapa waktu lalu, namun karena saya tiba-tiba mengalihkan rencana menjadi ke Dieng maka tertundalah rencana ke Puncak Suroloyo ;-).

Seperti biasa, saya yang koordinir teman-teman untuk ikutan. Dan kali ini yang ikut adalah Rama, Cipto, Dinar, dan Febrian.

Jam 2.30 pagi kami sudah berkumpul. Febrian karena kosannya paling jauh maka dia yang menghampiri kami yang di pogung (saya, Dinar, dan Cipto). Lalu kami menghampiri Rama di rumahnya di jalan palagan.

How to get there:

Ada dua jalur yang bisa dipilih. Pertama melalui jalan Godean – Sentolo – Kalibawang dan jalur yang kedua melalui jalan Magelang – Pasar Muntilan – Kalibawang.

Kami memilih rute yang pertama karena jaraknya lebih singkat. Dari jalan godean, setelah melintasi jembatan besar yang di bawahnya mengalir sungai progo maka siap-siap ambil belok kanan (jalan mungkid-nanggolan). Kemudian susuri saja jalan itu dan cari petunjuk arah belok ke kalibawang. Dari kalibawang, tanya saja pada warga sekitar arah puncak suroloyo. Walaupun masih pagi buta, tapi ada saja beberapa warga di pinggir jalan. Dan mereka pasti akan dengan senang hati menunjukkan arah.

Jarak Kalibawang ke Puncak Suroloyo hanya sekitar 18 km, namun untuk mencapainya butuh waktu 45-60 menit. Ini karena kondisi jalannya yang tidak bagus, sempit, tanjakan ekstrem, dan juga gelap. Sesekali kami berpapasan dengan warga yang sudah akan memulai aktivitasnya, padahal belum jam 5 pagi. Bahkan kali kami juga berpapasan dengan siswa yang sudah berseragam sekolah, siap untuk berangkat sekolah hanya dengan berjalan kaki. Jam 5 pagi sudah berangkat??? Seberapa jauh jarak sekolah mereka 😦

Kami mampir sejenak di sebuah mushala untuk melaksanakan shalat subuh, tidak ada jemaah lain selain kami. Air wudhu-nya sangat dingin, terasa sampai ke tulang :-(. Selesai shalat kami melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba di parkiran puncak suroloyo sekitar jam 5.15 pagi (tukang parkirnya belum datang, hehehe). Kondisi motor sih sudah ketar ketir, karena banyak bermain di posisi gigi perseneling 1 dan 2 saja 😛

Pesona Puncak Suroloyo:

Tak mau keduluan matahari terbit, kami bergegas menaiki anak tangga menuju bagian tertinggi Puncak Suroloyo. Ada 286 anak tangga yang harus dilewati. Bukan hanya jumlah anak tangga yang banyak, tapi sudut kemiringannya yang sadis yang menambah ngos-ngosan.

 

Akhirnya kami sampai di Puncak Suroloyo, tapi sayangnya matahari enggan muncul karena berlindung di balik kabut. Bahkan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang seharusnya terlihat berdiri kokoh pun enggan menampakkan kegagahannya. Ketebalan kabut itu tampak seperti ombak yang sedang bergulung-gulung. Jauh di bawah, diantara gulungan kabut sesekali terlihat puncak Candi Borobudur. Sungguh merupakan pemandangan yang luar biasa jika saja tak terhalangi oleh kabut tebal.

Selain Gardu Pandang Suroloyo, di sini ada dua gardu pandang lainnya yaitu Sariloyo dan Kaendran. Gardu Sariloyo merupakan titik terbaik untuk melihat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, sedangkan Gardu Kaendran merupakan titik terbaik untuk melihat Kota Kulon Progo dan Pantai Glagah. Namun karena kabut enggan berhenti maka kami hanya berada di Gardu Suroloyo saja, toh kalaupun ke gardu lain akan tetap terhalang kabut.

Puncak yang memiliki ketinggian 1.091 m dpl ini juga menyimpan mitos, konon di sini merupakan tempat pertapaan Sultan Agung sehingga mendapatkan wangsit memerintah tanah jawa. Puncak Suroloyo ini juga diyakini sebagai kiblat panceling pulau jawa, yaitu titik pusat pertemuan antara garis utara-selatan dan barat-timur (pusat empat penjuru).

Febrian tiba-tiba mules dan minta ditemenin ke toilet, itu artinya saya dan Febrian harus turun kembali ke bawah sementara yang lain masih bersantai-santai di atas. Perjuangan turun tangga memang jauh lebih mudah dibandingkan saat naik. Setelah selesai dari toilet, saya dan Febrian kembali naik tangga menyusul Rama, Cipto, dan Dinar yang masih di atas. Tentu ngos-ngosan lagi saat tiba di puncak. Tapi hanya selang beberapa menit, mereka sudah bosan dan mengajak turun :-(. Tau gitu Saya dan Febrian tak perlu repot-repot naik lagi ke atas, lebih baik menunggu di bawah saja, hiks 😦 😦 😦

Okelah, karena sudah cukup siang maka kami memutuskan untuk pulang.

Advertisements

2 thoughts on “Hunting Sunrise di Puncak Suroloyo

  1. Yusnadong.. menginat kegigihan lo dalam membuat blog yang bener secara EYD (ampe niat bgt donglot buku panduan EYD) hahaha..
    ini koreksi gue yak:
    1. How to get there ===>>ini pake huruf miring kale
    2. Lalu kami menghampiri Rama di rumahnya di jalan palagan. ==> Jalan Palagan (??)
    3. Mushala atau mushola?
    4. Gardu Suroloyo saja, toh kalaupun ke gardu lain akan tetap terhalang kabut ===> toh pake huruf miring (??)

    Segitu dulu yak, ntr gue mau ngecek buku EYD jaman SMA gue dulu.. hehe

  2. Hey very nice blog!! Guy .. Beautiful ..
    Wonderful .. I will bookmark your blog and take the feeds additionally?
    I am satisfied to find a lot of useful info right here in
    the submit, we need work out more techniques in this regard, thanks
    for sharing. . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s