Indonesia · Jawa Barat

Trip to Green Canyon dan Pangandaran (Jogja – Majenang – Cijulang)

Saat ini tentu nama Green Canyon sudah tidak asing lagi, bukan? Tempat wisata yang berjarak 31 km dari Pantai Pangandaran ini termasuk dalam kategori WAJIB dikunjungi menurut versi “CERITA ADHIE” 😀

Saya kesana ketika masih kuliah dulu (lebaran hari ketiga tahun 2008). Dari Jogja saya dan Rama berangkat menggunakan sepeda motor dan bermalam di rumah Dinar di Majenang. Selain saya, Rama, dan Dinar ada satu lagi teman kami yang juga ikut dalam trip ini yaitu Anang. Anang berangkat dari Cilacap menuju Majenang, juga menggunakan motor. Jadi, rumah Dinar merupakan tempat berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan ke Green Canyon.

Day #1

Jogja – Majenang ditempuh melalui jalur lintas selatan (arah Bandung). Jogja-Wates-Purworejo-Kebumen-Gombong kondisi jalanan cukup bagus, namun arus lalu lintas cukup ramai karena arus balik lebaran sudah dimulai. Saya dan Rama sempat terpisah ketika melintasi jalan yang ada pasar tumpah sehingga menimbulkan kemacetan (kami naik motor masing2).

Jalur yang cukup memacu adrenalin adalah ketika memasuki Lumbir-Karang Pucung-Cimanggu karena kontur jalanannya menanjak, menurun, dan berliku. Saya yang tidak terbiasa dengan jalur seperti itu harus ekstra hati-hati terutama saat akan menyalip bus atau kendaraan2 besar. Saya hampir menabrak bus yang berhenti mendadak di depan, untungnya saya masih sempat menginjak rem. Saya juga hampir terpeleset karena dipepet bus yang posisinya semakin ke kiri, padahal saya ada di sebelah kiri bus tersebut, sehingga saya terpaksa turun ke jalan yang tidak beraspal.

Jalan antara Lumbir dan Karang Pucung cukup sepi, sepanjang jalan hanya ada hutan jati, tidak banyak rumah penduduk dan tidak terlihat pom bensin. Saya sempat khawatir bakal kehabisan bensin karena indikator bensin di motor tinggal satu garis saja, motor rama pun begitu juga. Padahal sebelumnya kami sudah mengisi bensin full tank di daerah Wates. Kami terus menyusuri jalan dan alhamdulillah akhirnya menemukan pom bensin di kanan jalan ketika mulai memasuki Karang Pucung (kalau tidak bakal campur dorong, hehehe)

Akhirnya, setelah lebih kurang 5 jam perjalanan kami tiba di Majenang. Kami makan siang di warung Soto Sokaraja, sholat Jumat di Masjid Agung yang berada dekat Alun-Alun Kota dan kemudian menuju rumah Dinar.

Day#2

Jam 7 pagi saya, Rama, Dinar, dan Anang sudah siap berangkat. Cuaca agak sedikit mendung, maklum karena sudah memasuki siklus musim hujan. Majenang – Green Canyon dapat ditempuh dalam waktu 3-4 jam melalui jalan yang menuju Pangandaran. Di tengah perjalanan kami sempat mampir ke warung untuk membeli jas hujan plastik karena rintik-rintik hujan mulai turun.

Sesuai rencana bahwa tujuan utama adalah Green Canyon, namun karena Green Canyon baru buka jam 9 pagi maka kami mampir dulu di salah satu pantai sebelum kawasan Pangandaran, Pantai Karang Nini namanya.

Pantai ini terletak di Kecamatan Kalipucang. HTM Rp14.000 untuk 2 motor dan 4 orang. Jalan menuju pantai agak rusak, aspalnya bolong-bolong dan tidak terlihat rencana perbaikan. Jalannya cukup curam sehingga butuh ekstra hati-hati untuk menuju pantai. Walau begitu, rindangnya hutan jati di kiri kanan jalan akan memberi kenyamanan dan kesejukan.

Sesuai namanya, Pantai Karang Nini merupakan pantai berkarang. Karang utamanya menjulang tinggi, dari sini kita bisa melihat hamparan lautan luas, deburan ombak yang memecah pantai, dan merasakan kencangnya hembusan angin. Tak hanya menikmati pantai dari atas karang, di pantai ini kita juga bisa turun ke bawah.


Perjalanan dilanjutkan, namun kami harus menunggu hujan reda terlebih dahulu. Di musim hujan seperti ini hujan bisa turuntiba-tiba. Untungnya hujan segera reda sebelum kami berencana menerobosnya, jadi kami tidak perlu hujan2an, hehehe.

Green Canyon terletak di Kecamatan Cijulang. Dari pintu gerbang Pantai Pangandaran ambil belok kanan dan tinggal ikuti papan penunjuk jalan saja. Kondisi jalan cukup ramai, mungkin karena hari itu adalah puncak libur lebaran sehingga banyak keluarga yang memanfaatkannya untuk berlibur di pantai pangandaran. Kemacetan mencapai 3-4 km, untungnya kami pakai motor jadi dapat menerobos dengan mudah.

Kami tiba di Green Canyon jam 10.30 pagi, perjalanan Pangandaran – Cijulang sekitar 45 menit. Kami istirahat sejenak dan makan siang di area parkiran tersebut. Area parkiran tersebut sudah seperti pasar kaget saja karena banyak menjual makanan, baju kaos, celana, dan souvenir lainnya. Jadi jika anda lupa membawa pakaian ganti maka dapat langsung membeli saja disini (asal  jangan lupa bawa uang yang cukup ya, hehehe).

Sebagai objek wisata yang sudah dikelola dengan baik, pengaturan tiketnya pun cukup baik. First came first serve, pengunjung yang datang lebih awal akan mendapatkan urutan tiket lebih dulu.  Pengaturan tiket disini adalah urutan naik perahu untuk menyusuri Green Canyon. Jumlah pengunjung Green Canyon saat itu sangat membludak, bukan hanya pengunjung lokal tetapi juga banyak bule-bule. Kami mendapat nomer urut 394 sedangkan perahu yang standby baru diurutan 250. Butuh waktu 2-3 jam baru untuk sampai ke nomer urut kami.

Daripada menunggu lama maka kami memutuskan untuk ke Pantai Pangandaran saja. Sebenarnya di sekitar Green Canyon banyak objek wisata pantai yang menarik seperti Pantai Batu Karas dan Pantai Batu Hiu. Namun karena sebelumnya kami telah berencana akan mengunjungi pantai pangandaran juga maka kami memutuskan untuk kesana saja. Jadi kami balik arah pantai pangandaran.

Setelah 45 menit, kami tiba di pintu gerbang pantai pangandaran. Dengan membayar Rp.12.000 untuk 2 motor dan 4 orang kami memasuki kawasan pantai pangandaran. Saya belum pernah melihat suasana pantai seramai dan semacet ini, sepertinya mereka pengunjung luar kota baik dari Bandung ataupun Jakarta yang sedang menghabiskan sisa liburan.

Pantai pangandaran sangat luas, membentang dari barat sampai ke timur. Karakteristiknya yang landai hampir sama dengan Pantai Parangtritis. Hanya saja Pantai Pangandaran lebih aman untuk berenang karena ombak yang tidak sebesar ombak Parangtritis. Sehingga Pantai Pangandaran ini seperti kolam raksasa saja saking banyaknya pengunjung yang berenang disini 😀

Dengan membayar ongkos Rp.10.000/orang, kami menyebrang ke Pantai Pasir Putih menggunakan perahu yang banyak disewakan di pinggir pantai. Satu perahu isinya 6-7 orang. Jadi dalam satu perahu itu bukan hanya kami berempat melainkan ada pengunjung lain. Sesuai namanya pantainya, pasir di pantai itu berwarna putih, kalau pantai pangandaran pasirnya berwarna coklat. Dengan naik perahu ini kita juga bisa melihat karang di dasar laut.

Jam 1 siang, kami kembali ke pantai pangandaran. Setelah diterjang tsunami beberapa tahun lalu, kini pantai ini telah dipasang alat pendeteksi tsunami. Penjagaan dan pengawasan di pantai ini lumayan bagus, di tengah laut terlihat beberapa kapal polisi pantai yang bersiaga. Dan di pinggir pantai juga terdapat beberapa pos informasi sehingga jika pengunjung ada yang terpisah dengan saudara atau temannya dapat melapor disana.

Di sini kami melanjutkan bermain di pantai dengan menyewa ban pelampung dan papan selancar. Dinar pamit sebentar karena ingin mengunjungi sodaranya yang sedang berliburdi pantai ini juga. Kami janjian akan ketemu lagi jam 2 siang.

Hari semakin siang, kami pun sudah capek bermain di pantai. Jam 2.30 Dinar belum kembali padahal kami harus segera menuju Green Canyon. Kami tidak bisa menghubunginya karena hp ditaruh di jok motor sedangkan kunci motor dia yang bawa. Lama menunggu, Dinar belum juga kembali. Lalu saya berinisiatif ke pos informasi (banyak juga pengunjung lain yang mencari rekannya dengan menyebutkan nama di pengeras suara di pos informasi itu, sudah seperti di mal saja, hehehe). Untuk menuju kesana saya harus berjalan sekitar 1,5 km. Sebenarnya ada banyak pos informasi disana, namun pusat informasi hanya ada di pos utama yaitu 3 pos dari lokasi saya. Pos-pos yang lain ternyata hanya tempat pengeras suara saja.

Setelah dari pos informasi kemudian saya kembali ke titik awal (sambil setengah berlari). Namun ternyata Rama dan Anang tidak ada disana. Dalam hati saya marah dan kesal, saya sudah tidak bersemangat menuju Green Canyon. Kemana lagi mereka?

15 menit kemudian Rama datang menghampiri, ternyata mereka sudah berkumpul di parkiran. Saya sih masih kesal, janjian ketemuan di titik ini tapi mereka malah kumpul di parkiran. Dengan hati masih kesal dan dengan pakaian basah (yang akhirnya kering di badan) kami berangkat menuju Green Canyon.

Hampir jam 4 sore, kami tiba di Green Canyon. Loket pembelian tiket telah tutup namun pengunjung masih ramai. Mereka tinggal menunggu antrian karena sebelumnya telah memiliki tiket. Kami lalu melapor ke petugas menanyakan nomer antrian kami.

Sebenarnya nomer antrian kami sudah lewat, namun kami masih bisa naik. Malah sekarang kami berada paling depan karena nomer urut kami lebih kecil dibanding pengunjung yang lain.

Perahu datang dan kami siap menyusuri sungai cijulang. Harga sewa perahu adalah Rp.75.000 dengan kapasitas penumpang maksimum 5 orang. Harga tersebut belum termasuk tips (kami memberi tips Rp. 50.000 ke akang pengemudi perahu ini)

Saya yang tadi begitu emosi, perlahan-lahan mulai mereda. Mungkin karena terbius dengan sejuknya pemandangan :-D. Perahu atau yang populer disebut ketinting ini membawa kami menyusuri sungai. Air sungainya berwarna hijau dan pemandangan indah pepohonan di tepi sungai juga sangat hijau. Sesekali kami berpapasan dengan ketitinting lain yang kembali ke dermaga awal.

Semakin ke dalam, mulai tampak tebing berbatu di pinggiran sungai. Ketika celah semakin sempit, disinilah batas akhir perahu. Dan petualangan selanjutnya adalah mengarungi Green Canyon dengan cara berenang.

Setelah mengenakan pelampung kami segera turun dari perahu. Melewati bebatuan dengan cara merayap akhirnya kami dapat menikmati pesona stalaktit dan stalagmit di Green Canyon ini. Terlihat beberapa air terjun kecil diantara tebing.

Tak cukup hanya melihat-lihat saja, kami berenang menuju bagian terdalam dari Green Canyon. Airnya sangat jernih dan tawar rasanya. Bagi yang suka tantangan adrenalin, disini ada sebuah batu batu besar dengan ketinggian 7 m di atas permukaan air. Banyak orang-orang yang melompat dari batu itu, sayangnya saya tidak cukup berani untuk itu.

Hari semakin gelap dan kami harus segera pulang. Kami tiba kembali di dermaga tepat saat azan magrib berkumandang. Capek dan menyenangkan, kata orang-orang ”Green Canyon adalah sepotong surga di bumi”. Dan saya sepakat dengan ungkapan itu 😀

Day #3

Setelah istirahat semalam, kami kembali pulang. Sayadan Rama pulang ke Jogja. Anang pulang ke Cilacap.

Satu hal yang menarik juga di perjalanan pulang/pergi adalah ketika mengamati iklan Pringsewu yang berjejeran di sepanjang jalan “sekian meter lagi rumah makan pringsewu”, cara promosi yang luar biasa 😛

Oya, sebenarnya SIM-ku sudah expired. Tapi karena jarang ada razia di musim lebaran makanya tetap tancap gas saja 😉

Advertisements

One thought on “Trip to Green Canyon dan Pangandaran (Jogja – Majenang – Cijulang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s