DI Yogyakarta · Indonesia

Goa Cerme

Sabtu, 27 Maret 2009 saya dan beberapa teman berangkat ke Goa Cerme yang berada di Dusun Srunggo, Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul. Caving ini idenya Rama sejak dulu namun harus di-pending beberapa kali karena ini dan itu, tapi untunglah akhirnya terlaksana juga. Setelah sepakat berangkat hari Sabtu, kami menghubungi beberapa teman. Cukup banyak yang saya hubungi tapi cukup banyak juga yang menolaknya :-(. Yang tertarik untuk ikut adalah Taufik, Dinar, Wisnu, dan Moris.

Janji berangkat jam 8 tinggal janji, selalu saja ada si tukang telat. Padahal sejak jam 7 saya sudah ready to go. Oya, Wisnu tidak jadi ikut karena tiba-tiba ada rapat di kantornya.

Jam 9, setelah semuanya lengkap kami langsung tancap gas. Dari Terminal Giwangan terus saja ke arah selatan melalui Jalan Imogiri Timur. Setelah melewati jembatan panjang, siap-siap belok kanan pada pertigaan. Tak perlu bingung kehilangan arah karena ada penunjuk arah yang jelas. Setelah itu ada sebuah pertigaan lagi, salah satu jalurnya menanjak. Ikuti jalur tanjakan tersebut. Tanjakannya lumayan terjal, namun tak perlu khawatir karena kondisi jalan cukup bagus walaupun agak sempit. Ketika sampai pada pertigaan yang ada pohon beringinnya, ambil arah lurus maka akan sampai langsung di depan mulut goa. Sepanjang jalan tetap waspada dan hati-hati karena pada tanjakan terakhir jalurnya semakin terjal.

Jarak Jogja-Goa Cerme tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 km. Harga tiket masuk Rp 2250/orang dan jasa pemandu Rp 25.000/rombongan. Jangan lupa membawa perlengkapan utama seperti senter dan pakaian ganti. Senter diperlukan karena kondisi di dalam goa sangat gelap, cahaya dari luar tidak tembus ke dalam (lebih bagus lagi jika menggunakan head lamp). Sedangkan pakaian ganti diperlukan karena untuk melintasi goa ini tubuh kita akan terendam air yang kedalamannya bervariasi, mulai dari selutut sampai sepinggang. Juga jangan lupa pilihlah pelindung kaki yang sesuai agar nyaman melangkah di atas air yang dasarnya bebatuan.

Beda orang beda pula tingkah lakunya, begitu juga teman-teman saya. Dinar misalnya, dia lebih memilih tetap menggunakan jeans-nya daripada menggantinya dengan celana pendek, padahal menggunakan celana panjang/ jeans membuat gerak tubuh kurang leluasa. Rama lain lagi, dia lebih senang berlarian di dalam goa tanpa memakai alas kaki. Bagaimana kalau menginjak batu/ benda tajam? :-P. Sedangkan saya, karena selalu memikirkan safety analysis sebelum melakukan sesuatu maka tentu saya sudah memproteksi diri sebaik mungkin 😀

Caving ini merupakan pengalaman pertama kami semua. Yang khas dari goa adalah stalaktit dan stalakmit-nya. Dulu saya pernah belajar tentang stalaktit dan stalakmit pas SMA. Saya hanya melihat gambarnya saja di buku geografi, tidak tau bentuk aslinya seperti apa. Tapi setelah caving ini saya jadi tau wujud asli ornamen yang terbentuk dari tetesan air kapur yang telah membatu itu. Bentuknya seperti batuan berwarna bening dan mengkilat bak kristal, yang diukir secara sempurna oleh seniman, dan diletakkan bergantung di langit-langit goa. Indah dan artistik.

Selain stalaktit dan stalakmit, yang juga menjadi ciri khas goa adalah merupakan tempat tinggalnya kelelawar. Ini terasa ketika semakin masuk ke dalam, saya mencium aroma menyengat yang tidak enak yang berasal dari kotoran kelelawar. Ketika senter saya arahkan ke langit-langit goa memang tampak beberapa kelelawar beterbangan.

Di dalam goa ini ada air terjun mini. Saya sebut mini karena bentuknya yang pendek. Walapun mini, karena berada di ruang tertutup maka suara jatuhan airnya terdengar cukup kencang, ini karena efek gema. Awalnya saya malas basah-basahan. Tapi melihat Rama begitu asik menceburkan diri, kemudian Taufik menyusul, akhirnya saya pun tergoda untuk merasakan sensasi dinginnya air terjun itu.

Goa Cerme ini dulunya merupakan tempat tafakur dan tempat menyusun strategi dakwah para wali songo. Untuk mendapatkan suasana itu, pemandu meminta kami mematikan senter. Dalam keadaan gelap gulita, kami diminta hening sejenak. Memang benar-benar terasa damai dan tentram, cocok untuk melupakan semua permasalahan. Namun lama-lama di kondisi gelap membuat saya takut juga, siapa tau tiba-tiba ada ular yang menggigit 😦

Medan berikutnya cukup melelahkan. Beberapa kali kami harus menunduk sedalam-dalamnya, bahkan kepala Taufik sampai kejedot karena kurang menunduk ;-). Menjelang pintu keluar, kita harus jalan jongkok melalui jalur yang cukup panjang sampai akhirnya kita kembali melihat cahaya matahari 😀

Saat ini, Goa yang sedang happening di Jogja adalah Goa Pindul. Namun tak ada salahnya anda mengagendakan kunjungan ke Goa Cerme ini. Aksesnya yang  mudah dan tarifnya yang murah adalah alasan mengapa anda tak boleh melewatkan kunjungan kesini 😀

Advertisements

3 thoughts on “Goa Cerme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s