Bangka Belitung · Indonesia

Bangka Series, Part 1: Pesona Sungai Liat (dari Parai Tenggiri sampai ke Kuil Puri Tri Agung)

Ini adalah kesempatan kedua saya pergi ke Bangka. Kesempatan pertama (walau sudah beli tiket pesawat) harus gagal karena sesuatu hal. Tapi yang namanya jodoh, walaupun tertunda, akhirnya akan kesampaian juga :-). Kali ini saya berangkat dengan adik saya, Yuyun, dan juga dengan teman kampus Sandra dan Cipto.

Bangka mungkin belum setenar Belitung. Belitung menjadi terkenal setelah novel dan film Laskar Pelangi booming. Saya juga ingin ke Belitung, tapi dari hitung-hitungan ke Bangka lebih ekonomis daripada Belitung. Itu karena saya punya teman orang Bangka, yaitu Cipto yang ikut dalam trip ini,  jadi kami akan menginap gratis di rumahnya.

A3 A5

Jakarta – Pangkal Pinang ditempuh dalam waktu 1 jam. Rasanya baru take off, dihidangkan makanan, tak lama berselang sudah landing aja. Kami mendarat sekitar jam 11.15 dalam cuaca yang panas terik. Bapak Ibu dan ponakan Cipto sudah menunggu di area kedatangan, jadi gak enak hati merepotkan gini, hehehe…

Hari pertama kami menginap di rumah kakak Cipto di Pangkal Pinang, dari bandara Depati Amir ke pusat kota sekitar 30 menit saja. 10276025_10203125090343722_755712622928770932_nSesampainya di rumah, kami disuguhi banyak banget makanan. Salah satu yang khas adalah Tekwan dan Pempek. Karena bangka dan Sumatra Selatan dulunya serumpun, jadi hidangannya cenderung sama. Semuanya masakan kakak Cipto. Kakaknya jago masak dan rasanya enak.

Tujuan kami hari ini adalah semua objek wisata di Sungai Liat, diantaranya:

  • Pantai Parai Tenggiri
  • Pantai Matras
  • Tanjung Pesona

Sungai Liat berada di sebelah utara (lebih tepatnya timur laut) Pangkal Pinang. Pantai-pantai di Sungai Liat terkenal cantik, banyak resort disana. Tujuan pertama kami adalah pantai Parai Tenggiri, jarak dari Pangkal Pinang sekitar 50 km ditempuh dalam waktu 1 jam. Agar lebih rame kami mengajak adik Cipto dan juga saudaranya.

Tiket masuk pantai Parai cukup mahal, 25 ribu per-orang, mungkin karena pantai ini dikelola swasta. Tapi sepadan dengan pemandangannya. Laut biru, pasir putih, dan hamparan batu granit yang cantik. Saya harap dengan harga tiket yang cukup mahal ini semoga perawatannya juga maksimal, sejauh ini saya cukup terkesan. Pantainya bersih, bebas dari sampah.

B3B1 B4

Airnya laut cukup tenang sehingga aman untuk berenang. Tetapi jika tak ingin berenang di laut, disediakan juga kolam renang. Water sport seperti jet ski atau banana boat ada disini. Berjalan ke bagian ujung pantai, terdapat sebuah pulau kecil yang bernama Rock Island, dinamakan demikian mungkin karena banyak batu-batu granit yang mengelilingi pulau ini.

B10 B7

Tak jauh dari Parai Tenggiri, sekitar 4 km menyusuri bibir pantai arah utara, terdapat Pantai Matras. Kali ini tak ada bebatuan granit seperti Parai. Yang ada adalah hamparan pasir luas membentang ditemani pohon-pohon kelapa tinggi. Gambaran keindahan “nyiur melambai di tepi pantai” ya seperti yang dilukiskan oleh Pantai Matras ini.

Dari Pantai Matras kami menuju Tanjung Pesona. Kembali melalui ke jalan utama arah selatan sampai ketemu jalan Tanjung Pesona. Tj PesonaSeperti Parai Tenggiri, Tanjung Pesona juga dikelola swasta sehingga banyak resort. Menurut saya, resort disini malah lebih oke disini karena lokasinya menghadap laut. B14

Sama seperti Parai, Tanjung Pesona juga bersih dan oke fasilitasnya. Terdapat banyak pendopo untuk duduk-duduk santai yang menghadap laut, cocok untuk bermalas-malasan. Laut yang tenang dan hamparan batu granit menambah keindahan. Di bawah tampak beberapa orang sedang memancing.

B17 B16B22 B21aB19

Ada satu tempat lagi yang belum dikunjungi berdasarkan itinerary, yaitu kuil fathin san. Tapi tempat itu kami skip dan diganti Puri Tri AgungB26. Di Bangka ada banyak warga Tionghoa sehingga ada banyak kuil. Puri Tri Agung ini yang paling baru, lokasinya tidak jauh dari Tanjung Pesona. Kuil ini dikenal juga dengan nama Kuil Shaolin.

B23

Kuil ini berdiri kokoh di atas sebuah bukit. Berdiri disini seperti bukan di Indonesia, saya merasa seperti ada di China. Menariknya lagi, di sisi timur terhampar laut biru yang luas dan tenang. Secara geografis, Sungai Liat berada di sebelah timur, jadi kita tidak bisa menyaksikan sunset disini. Akan tetapi, mungkin kita dapat menikmati indahnya sunrise di semua pantai-pantainya.

B28 B30

Jelajah Sungai Liat berakhir disini, semua tempat menakjubkan. Sayangnya akses umum menuju spot-spot wisatanya masih cukup sulit. Kami beruntung ada sodara Cipto yang mengantarkan kesana-kemari, sehingga semua tempat dapat dicapai dalam satu hari (atau malah setengah hari).

Malamnya kami pulang ke rumah kakak Cipto di Pangkal Pinang. Sebelum pulang, kami mampir di Pantai Pasir Padi untuk makan malam di salah satu restoran terkenal yang bernama Aroma Laut. Interior restorannya cukup menarik, berbentuk geladak kapal sehingga pengunjung merasakan sensasi makan seperti diatas kapal sesuai dengan taglinenya “makan di atas kapal”. Menunya hidangan laut. Sebagai pulau yang kaya hasil laut sepertinya harga di restoran ini cukup menguras dompet, hehehe… Tetapi karena kami membeli “suasananya” maka kami tetap enjoy.

B33B35 B36

Pulang ke rumah dengan perut kenyang dan hati yang riang. Di rumah, kakak Cipto sudah menyiapkan makanan. Tapi karena sudah terlalu kenyang maka disimpan lagi untuk besok pagi saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s