Foreign · Korea

Jalan-Jalan ke Korea, Part 1 (Jakarta-Seoul)

Seperti biasa, saya selalu mengandalkan tiket promo Air Asia untuk jalan-jalan keluar negeri. Tiket Korea ini sudah dibeli setahun yang lalu. Dari 6 tiket yang dibeli hanya 3 yang berangkat, yaitu: saya, Valzon, dan Enno. 3 yang lainnya  tidak jadi berangkat , ada yang karena urusan pribadi dan ada yang karena visa tak keluar. Tiket mereka tentu saja hangus, itulah konsekuensi membeli tiket promo yang tidak refundable. Saya sendiri termasuk orang yang senang berburu tiket promo dan cukup sering mengalami tiket hangus dengan berbagai alasan.

Sebelum berangkat, kami bagi-bagi tugas terkait persiapan seperti akomodasi, itinerary, logistik, dan juga uang won. Valzon bertugas booking hotel. Dengan kartu membership-nya kami dapat  free 2 malam menginap di Accor Hotel Group. Hotel yang kami pilih adalah Novotel Seoul Ambassador Gangnam. Oya, sebenarnya tidak ujug-ujug free juga sih, fasilitas itu didapat karena  Valzon membayar annual fee sebesar 2,5 juta. Jadi yang benar-benar free adalah saya dan Enno, thank you Valzon. Hotel untuk malam-malam berikutnya akan kami cari ketika sudah tiba di Seoul saja.

Saya kebagian menyusun rencana perjalanan, saya yang jadi tour guide :-). Seminggu liburan di Korea akan dihabiskan dengan mengunjungi Seoul dan Jeju. 2 hari pertama di Seoul, 3 hari berikutnya di Jeju, dan 2 hari terakhir kembali ke Seoul. Apa yang menjadi fokus di kedua kota itu? Mengunjungi Seoul dan Jeju sama seperti mengunjungi Jakarta dan Bali kalau di Indonesia. Seoul, sebagai ibukota negara tentu menawarkan gemerlap kehidupan kota, landmark kota yang khas, transportasi yang nyaman, istana bersejarah, sampai festival bunga sakura karena kebetulan saat ini sedang musim semi. Sementara di Jeju fokus kami akan menikmati pemandangan alam, Jeju merupakan salah satu dari new 7 wonders of nature. Selain itu ada personal reason kenapa saya ingin sekali ke Jeju, yaitu pulau ini merupakan tempat pengasingan Jang Geum, drama korea yang sangat saya sukai, hehehe…

Masalah dana, Enno yang menukarkan rupiah ke won, rate 1 won senilai 12,85 rupiah. Uang won yang dibawa tidak banyak karena rencananya akan tarik tunai via atm disana.

Dan untuk logistik, kami membawa bekal masing-masing. Enno membawa mie instan titipan Valzon, Valzon membawa rendang, dan Saya membawa ikan teri sambel kacang. Ada juga berbagai minuman instan dan cemilan seperti milo, energen, fitbar, malkist roma, dsb. Oya, bagi saya crakers Malkist Roma itu ibarat lembas bread di cerita Lord of the Ring, saya bisa menahan lapar di sepanjang perjalanan jika memakan crackers gandum ini , hehehe…

Rendang yang dibawa Valzon ternyata banyak sekali, 1 kg, hehehe. Ditambah ikan teri kacang yang saya bawa maka kami tak perlu repot-repot mencari  makan siang atau pun makan malam selama seminggu. Agar makanan (terutama rendang) bisa tiba di Korea dengan selamat, kami putuskan membeli bagasi dan menaruh makanan di bagasi. Makanan seperti rendang biasanya tidak lolos x-ray jika dibawa ke cabin. Tapi terkadang lolos atau tidaknya itu tergantung petugas yang menyeleksi. Sewaktu ke Indo China beberapa waktu lalu saya berhasil membawa sambel ke bagasi cabin, tapi pas ke korea ini selai Morin tidak lolos x-ray, walaupun selai-nya masih bersegel. Padahal kalau dipikir-pikir antara sambel atau selai coklat tentu sambel bentuknya lebih cair dan lebih berpotensi tidak lolos x-ray. Wallahu a’lam…

Jpeg IMG-20150411-WA0023a

Penerbangan Air Asia Jakarta-Seoul transit di Kuala Lumpur. Jakarta-Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu 2 jam, Kuala Lumpur-Seoul ditempuh dalam waktu 6,5 jam dan waktu transit selama 1,5 jam.

2 jam penerbangan ke Kuala Lumpur tak terasa lama karena sepanjang perjalanan kami lalui dengan ngobrol ngalur-ngidul. Saya dan Enno baru pertama kali bertemu, kami terhubung karena sama-sama berteman dengan Valzon. Saya dan Valzon adalah teman satu SMA sedangkan Valzon dan Enno adalah teman satu kampus. Karena Enno orangnya ramah maka kami mudah akrab, mungkin karena profesinya sebagai dokter jiwa sehingga terbiasa mendengarkan cerita dan mampu menjadi pendengar yang baik.

Penerbangan ke Kuala Lumpur ini delay 30 menit, otomatis waktu transit semakin berkurang. Transfer dari gate kedatangan ke gate keberangkatan di KLIA 2 cukup jauh, memakan waktu sekitar 20 menit. Tak ingin ketinggalan pesawat maka kami harus berjalan cepat dan kadang sambil berlari. Kami tiba di gate keberangkatan persis saat petugas mengumumkan masuk pesawat. Untung tidak terlambat, tapi kalaupun terlambat harusnya bisa di-claim karena kesalahan disebabkan oleh penerbangan yang delayed. Hanya saja saya sedikit trauma dengan proses transfer karena pernah ketinggalan pesawat, maka lebih baik berlari-lari daripada harus ikut penerbangan berikutnya. Pelajaran kelima, di waktu yang sempit saat transfer seperti ini sebaiknya ikat pinggang, dompet, hp, dsb disimpan/ dimasukkan ke dalam tas saja karena akan merepotkan saat beberapa kali pemeriksaan x-ray. Oya, KLIA 2 ini kondisinya jauh lebih bagus daripada LCCT. Mirip Bandara Don Mueng di Bangkok tapi versi lebih besar.

Penerbangan Kuala Lumpur-Seoul menggunakan Air Asia X. Ini kali pertama saya naik pesawat berbadan lebar, susunan kursinya 3-3-3, kapasitasnya lebih dari 350 kursi. Karena pada saat check in saya tidak membeli kursi, maka tempat duduk kami terpisah jauh. Saya sengaja tidak membeli kursi dengan asumsi akan banyak kursi kosong. Tak dinyana, satu demi satu penumpang berdatangan dan pesawat hampir terisi penuh. Dalam benak, perkiraan penumpangnya paling banyak 50-60 persen saja, tetapi ternyata terisi sampai 90 persen kapasitas. Cukup takjub melihat tingginya jumlah wisatawan ke korea. Valzon kesel karena duduk kami terpencar, tidak bisa ngobrol-ngobrol lagi. Tapi ya sudahlah, malam semakin larut maka lebih baik beristirahat. Perjalanan kami cukup lancar dan saya bisa tidur dengan nyenyak. Kami mendarat di Incheon International Airport keesokan harinya.

IMG-20150412-WA0010 IMG-20150412-WA0009

Annyeonghasimnika, here we go…

Advertisements

4 thoughts on “Jalan-Jalan ke Korea, Part 1 (Jakarta-Seoul)

  1. Mau tanya dong mas yusnadi,
    Jadi kira2 harus bawa uang berapa ya utk ke korea, brp juta yg harus di tukar dr rupiah ke won, rencananya sih saya jg mau bawa makanan kaya abon, kentang kering sm rendang kering.. Klo bawa uang 3 di tukar ke won cukup gak ya utk seminggu di seoul?

  2. Tergantung objek wisata yang Mbak Ayya ingin datangi…

    Harga tiket masuk bisa di cek disini http://english.visitkorea.or.kr/
    Subway bisa dihitung disini harga-harganya https://www.smrt.co.kr/program/cyberStation/main2.jsp?lang=e
    Untuk makanan halal sekitar 100ribu rupiah sekali makan. Tapi kalau cuma beli nasi di 7-eleven satu mangkuk kisaran 20-30 ribu rupiah (jadi bisa ngirit :-))

    Satu tips lagi, kalau kurang duit bisa ambil di ATM berlogo VISA atau Mastercard (tergantung ATM kita kerjasamanya dengan apa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s