Foreign · Korea

Jalan-Jalan ke Korea, Part 5: Napak Tilas Dae Jang Geum

Hari keempat…

Pulau Jeju tentu sudah banyak yang tau karena keindahan alamnya. Tetapi bukan itu yang membawa saya kemari. Adalah Dae Jang Geum, kisah drama Korea populer yang mengantarkan saya ke pulau ini. Adegan Dayang Han yang meninggal ketika digendong Jang Geum dalam pengasingan ke Pulau Jeju begitu berkesan. Karena ingin napak tilas kisah Jang Geum itulah yang membawa saya kemari (lebay ya, hihihi…).

Ada beberapa tempat yang menjadi latar cerita Jang Geum, tapi yang akan kami kunjungi adalah Oedolgae Rock dan Jeju Folk Village. Keduanya berada di Seogwipo. Sebelum kesana kami akan mampir di Yeomiji Botanical Garden, yang juga di Seogwipo. Jadi dari kota Jeju kami akan naik bus ke Selatan. Rute menuju ke semua tempat sudah saya siapkan atas bantuan Lee (capture dari hp Lee)

Contoh rute yang saya capture dari hp Lee

Yeomiji Botanical Garden berada di Jungmun Resort Complex, pusat hiburan yang menawarkan berbagai macam atraksi mulai dari keindahan alam, museum, hotel dan lainnya. Selain Yeomiji Botanical Garden itu sendiri, ada juga Jungmun Beach, Teddy Bear Museum, Chocolate Land, Believe it or not Museum, dll.

Dari Jeju Intercity Bus Terminal naik bus nomor 780, turun di depan pintu masuk resort. Di sebelah kanan pintu masuk ada pusat informasi. Yeomiji tak jauh dari pintu masuk ini, atap dome-nya tampak dari depan jalan. Masuk saja mengikuti jalan, sampai di pertigaan (yang di depannya ada museum believe it ot not) belok kiri maka sampailah kita di botanical garden yang katanya terbaik se-Asia ini.

 2

Disini ada taman indoor dan juga outdoor. Ketika pertama masuk mata langsung dimanjakan dengan pemandangan tulip yang bermekaran. Di sisi halaman yang lain tampak anak-anak TK sedang asyik bermain.  Udara yang tak sedingin hari sebelumnya membuat kami menikmati tempat ini dengan santai.

3 4 i

Terus berjalan ke dalam ada banyak taman dengan tema khusus. Ada taman Korea, Jepang, Italia, Perancis, dan lainnya. Taman itu dibuat sebagai replika negara masing-masing.

5 6

Untuk area indoor cuaca terasa lebih hangat karena memang disesuaikan untuk tanaman tropis. Yang menarik adalah setiap tanaman diinformasikan nama dan asalnya. Banyak tanaman yang saya familiar di Indonesia. Hanya saja dari informasi yang tertulis sebagian tanaman itu bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari negara tetangga atau negara tropis lainnya 😦

  d

Kebun raya ini juga ramah untuk penyandang cacat. Terlihat ada beberapa anak dengan kebutuhan khusus yang dibawa orang tuanya. Masih di indoor area, ketika saya sedang memfoto Enno, ada seorang bapak yang mengambil kamera saya kemudian menyuruh saya duduk dengan Enno. Oohh, si bapak itu pikir kami muda mudi yang pacaran dan belum ada foto berdua karena tidak ada yang fotoin, hehehe… Annyonghaseyo!

Dari Yeomiji Botanical Garden kami menuju Oedolgae, naik bus nomor 100 dari halte Jungmun Resort Entrance tadi. Kami turun di halte Oedolgae, bersamaan dengan kami turun juga seorang ibu. Dia juga akan ke Oedolgae Rock. Ibu ini sedang ikut suaminya yang konferensi di Pulau Jeju, jadi ketika suaminya kerja dia jalan-jalan. Ketika dia tau kami dari Indonesia si ibu antusias dan bercerita kalau dia pernah tinggal di Malaysia. Jadilah kami cepat akrab, si ibu seolah menjadi tour guide dadakan. Melewati jalan yang agak menanjak, kiri kanan pepohonan rindang dan angin yang menerpa, akhirnya kami sampai di tepi laut.

Yang terkenal dari Oedolgae adalah sebuah batu yang menyerupai bentuk manusia. Dikisahkan, batu tersebut sebagai simbol seorang istri yang menunggu suaminya pergi melaut tetapi tak kembali, maka disebut juga lonely stone. Selain itu, Jang Geum yang syuting disini mengambil kisah Jang Geum berdiri dalam keadaaan hampa, memandang lautan, dan kemudian bertekad kembali ke istana pada kesempatannya yang kedua. Jadi tempat ini cocok untuk menggalau, asal jangan putus asa lalu lompat ke laut saja, hehehe…

3 68

Tak ada biaya retribusi atau biaya apapun untuk masuk kesini, begitu juga saat di Seopjikoji kemarin. Apa semua pantai disini gratis ya? Padahal lokasinya rapi, bersih, dan terawat. Yang menarik lainnya disini ada olle trail, yaitu trek khusus untuk jalan kaki yang menghubungkan satu tempat ke tempat yang lain. Trek ini menghubungkan pantai, hutan, gunung, dan nuansa alami lainnya tanpa ada kendaraan bermotor. Ada banyak olle trail di Pulau Jeju, rutenya ada yang pendek dan ada yang panjang. Info lengkap tentang olle ada diwebsite visitkorea.or.kr. Suatu saat nanti pengen balik ke Jeju dan mencoba olle trail-nya 🙂

Kami pamitan dengan si ibu di halte Oedolgae, si ibu melanjutkan perjalanannya ke tempat lain sedangkan kami ke Jeju Folk Village. Menurut info dari Lee, dari sini kami mesti 3 kali naik bus, yaitu nomor 8, lanjut 701, dan terakhir 720. Cukup jauh kelihatannya. Lama menunggu bus nomor 8 tak juga lewat, saya sempat bertanya ke mbak-mbak pengguna motor tapi dia tak tau. Sampai akhirnya bus nomor 701 lewat. Kami naik bus itu dalam perasaan yang tak begitu yakin karena merasa bus 701 tak semestinya lewat sini. Seharusnya kami naik nomor 8 dulu baru dapat bus 701, tapi ini bus 701 malah ada di depan mata. Dalam hati saya berkata, “mungkin bus ini habis mengantar rombongan dsb dan akan balik ke Seogwipo, maka tak ada salahnya naik ini daripada menunggu bus 8 yang tak kunjung datang”. Sesampainya di Seowipo, kami turun di halte transit untuk mencari bus 701 “sesungguhnya”. Saya bertanya ke warga setempat bus mana yang menuju Pyoseon, tempat transit kami berikutnya sebelum menuju Jeju Folk Village, warga itu menyebutkan bus di depan kami inilah yang akan ke Pyoseon. Akhirnya kami bergegas naik bus itu lagi… Belakangan baru saya sadari kenapa kami tidak menemukan bus nomor 8 karena bukan di halte itu menunggunya. Halte bus nomor 8 tak jauh dari pintu masuk Oedolgae dan akan menempuh jalur yang berbeda, makanya kami tidak noticed. Sedangkan di halte Oedolgae tempat kami turun dan naik itu memang rutenya 701, sehingga kalau dari situ bisa langsung ke Pyoseon.

Perjalanan menuju Pyoseon di tempuh dalam waktu hampir 2 jam. Pak sopir menginformasikan bahwa kami sudah sampai. Kami turun dan berjalan mencari halte bus 720, berjalan menuju perempatan lalu belok kanan. Haltenya tak jauh dari perempatan tersebut. Sepertinya daerah ini sudah jauh dari kota, di halte ini tak ada monitor seperti halte-halte  sebelumnya. Juga jarang sekali terlihat bus yang lewat, sempat terlintas untuk naik taksi saja.

Makin sore udara terasa makin dingin. Kami tergoda Jeruk Jeju yang dijual salah satu warung. Sambil menunggu bus kami ngemil Jeruk Jeju, rasanya manis dan tanpa biji, enak banget. Lama menunggu akhirnya bus 720 datang juga. Halte ini adalah halte terakhir sebelum perhentian di Jeju Folk Village. Jadi jaraknya cukup dekat, sekitar 10 menit saja. Sampailah kami di “latar perkampungan/ pedesaan” drama seri Jang Geum.

x2 IMG-20150415-WA0048

Saya tak mengira tempat ini begitu luas. Dalam benak saya hanya sebuah kompleks kecil yang terdiri dari beberapa rumah layaknya tempat syuting film. Tapi setelah masuk ke dalam dan terus ke dalam tempat ini tak ada habisnya. Selain rumah-rumah, ada juga lumbung padi, kandang ternak, area mandi dan mencuci, perkampungan nelayan, dsb. Di halaman rumah juga ada beberapa permainan tradisional. Sangat lengkap sebagai gambaran kehidupan tempo dulu. Saya dan Enno cukup menikmatinya, sedangkan Valzon kurang enjoy dengan “aroma kemiskinan” yang digambarkan 🙂

x6 IMG-20150415-WA0052x4 x5

Di bagian akhir ada semacam museum Jang Geum, isinya bagian  dari properti film yang wabahnya menyerang Asia sekitar 10 tahun silam ini. Belakangan Jeju Folk Village juga digunakan untuk tempat syuting drama lainnya yang berlatarkan perkampungan jaman dulu.

x7x8 x9

Sebelum pulang kami membeli oleh-oleh di souvenir shop-nya. Harganya tidak terlalu mahal. Kami membeli coklat dengan berbagai varian rasa, salah satunya rasa jeruk jeju. Kami diberi banyak free testing, mungkin karena kami membeli cukup banyak dan terlihat kelaparan :-).

Dari sini naik bus 720 tujuan Jeju Intercity Bus Terminal. Tak perlu khawatir nyasar karena lokasinya dari ujung ke ujung dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sehingga kami bisa tidur2an di dalam bus.

Sesampainya di rumah, Lee si tuan rumah menyuguhkan buah kesemek dan soju khas Jeju sebagai tanda farewell karena malam ini merupakan malam terakhir kami di Jeju. Karena saya tidak minum soju maka soju-nya oleh-oleh buat Enno.

Enno dengan Soju dan backgroud Lee si pemilik rumah
Enno & soju dengan backgroud Lee si pemilik rumah

Lee menceritakan tentang buah kesemek, yang dalam bahasa Korea disebut Gam, atau secara umum dikenal dengan nama Persimmon. Buah ini populer di Asia Timur, biasa dipanen saat musim gugur, tapi biasanya disimpan di dalam freezer agar bisa dinikmati pada musim-musim lainnya, seperti yang terhidang di meja saat ini.

Kami menunggu es-nya mencair. Ini kali pertama saya mencicipi buah ini. Seperti apel tapi memiliki rasa yang tajam dan manis. Teksturnya lembut sehingga enak dinikmati dengan menggunakan sendok. Saya suka!

Besok kami kembali ke Seoul dengan penerbangan pagi. Lee yang satu lagi, temannya Lee pemilik rumah, karena belum sempat pamitan berjanji akan mengantar kami ke bandara. Jadilah kami punya teman baru di Jeju.

Z4
Lee juga memberi oleh-oleh Jeruk Jeju 🙂

Sampai jumpa lagi, Jeju!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s