Foreign · Korea

Jalan-Jalan ke Korea, Part 6: N Seoul Tower, Nami Island, dan Halal Bibimbap

Hari Kelima…

Jam 8 pagi kami sudah mendarat kembali di Seoul. Tersisa dua hari full untuk menjelajah Seoul sebelum pulang ke Indonesia. Dari itinerary, ada beberapa tempat yang belum dikunjungi: Gwacheon National Science Museum, Namsan Seoul Tower, pasar oleh-oleh, dan Nami Island.

Sesampainya di hotel, kami minta tolong crew Novotel memesankan shuttle bus ke Nami Island untuk keberangkatan besok. Tiket bisa dipesan secara online dengan pembayaran menggunakan kartu kredit. Ada dua rute menuju Nami Island, yaitu dari Insadong dan Namdaemun. Dari segi jalur subway, Insadong lebih mudah di akses tetapi sayangnya tiket sudah habis. Tak punya pilihan lain, kami memesan tiket dari Namdaemun. Itupun hanya tinggal 6 kursi, maka dengan cekatan crew hotel membuat reservasi di website bertulisan hangul itu (ada opsi english juga koq). Sebenarnya kalau kehabisan tiket bus masih ada alternatif lain yaitu naik kereta, tetapi sedikit repot karena akan gonta-ganti kereta. Tiket shuttle bus yang kami beli adalah tiket one way, sedangkan untuk pulangnya akan naik kereta. Jika naik shuttle bus jadwal pulang jam 4 sore, saya rasa itu terlalu lama sehingga kami memilih naik kereta agar leluasa mau pulang lebih awal.

Hujan gerimis ketika kami turun dari hotel. Tujuan pertama kami adalah Gwacheon National Science Museum. Saya tertarik kesini setelah menonton Running Man. Lokasinya sangat gampang di akses, naik subway line 4 turun di Seoul Grand Park Station, Exit 5. Persis di depan exit 5 tersebut gedung museum ini berdiri. Ketika kami tiba disana hujan turun deras sekali, Valzon dan Enno pakai payung dan saya lari ala-ala running man, hehehe…

 

Walaupun terbuka untuk semua umur, museum ini lebih cocok untuk anak-anak. Tempat ini merupakan “taman pintar” yang berisi natural history, advanced technology, aerospace, tokoh-tokoh, dll. Sayangnya informasi yang ditampilkan menggunakan tulisan hangul. Walau begitu, tempatnya yang luas, toiletnya yang bersih, ruangannya yang sejuk, dan simulator yang keren cukup menjadi daya tarik tersendiri untuk museum ini (selain membayangkan Ha Ha cs berlarian di ruangan ini saat syuting Running Man, hehehe)

 

Dari Gwacheon Museum kami menuju ke N Seoul Tower. Ada tiga cara menuju kesana: jalan kaki, naik shuttle bus, atau naik cable car. Karena tak kuat jalan kaki dan naik cable car harganya mahal maka kami memilih naik shuttle bus. Kami naik bus dari Myeong-dong Station, Exit 3. Diinformasi ini shuttle bus akan lewat setiap 15 menit, tapi aktualnya bus datang lebih lama, 30 menit mungkin. N Seoul Tower berada diketinggian 243 meter, jadi perjalanannya akan menuju ke atas bukit (Gunung Namsan katanya). Yang menarik, ketika hampir sampai (yaitu mulai dari Dongguk University) tersaji pemandangan bunga sakura yang masih bermekaran.

Kami tiba di N Seoul Tower. Ramai sekali pengunjung disini. Kegiatan utama mereka tentu memasang gembok cinta sebagai simbol ikatan yang tak terpisahkan, hihihi… Kami sih hanya menonton saja. Menurut saya, gembok-gembok itu kalau difoto dari jauh terlihat lumayan keren, tapi kalau diamati dari dekat ada banyak yang berkarat, maklum sih karena kena  hujan dan panas, tetapi saya paling geli melihat benda yang karatan.

5 6

Dari atas menara kita bisa menikmati pemandangan kota Seoul secara melingkar 360 derajat. Kami tidak naik kesana karena sayang duitnya, hehehe… Menurut saya dari sini saja sudah cukup oke untuk menikmati panorama kota Seoul. Duitnya mending dibelikan segelas coklat panas di N-Terrace Cafe untuk menghangatkan tubuh yang sudah menggigil kedinginan.

Dari M Seoul Tower kami menuju ke Namdaemun Market untuk membeli oleh-oleh. Selain itu, juga untuk mencari lokasi keberangkatan shuttle bus ke Nami Island. Kalau tidak dicari lebih dulu takut besok nyasar dan ketinggalan bus. Mumpung beli oleh-oleh di Namdaemun maka sekalian saja cari lokasi busnya.

Di Namdaemun Market, banyak pedagang yang bisa menyapa dalam bahasa Indonesia (atau melayu) seperti selamat sore, silahkan mampir, atau kalimat singkat lainnya. Mungkin karena banyak turis dari Indonesia atau Malaysia. Tetapi ada satu toko yang bapak penjualnya benar-benar fasih berbahasa Indonesia, usut punya usut katanya dia pernah kerja di Indonesia. Akhirnya kami berbelanja disana 🙂

Setelah berbelanja kami mencari lokasi bus. Saya bertanya ke tourism information, tapi yang namanya pasar banyak kelok-keloknya sehingga saya tersesat. Setelah lama mencari dan bertanya lagi akhirnya saya menemukan plang bus Nami Island. Sebelumnya saya pikir disana ada semacam ticketing office, tapi ternyata hanya plang informasi saja, lokasinya di halaman pinggir jalan dekat Sungnyemun Gate. Bus-nya tidak mangkal disana, tetapi bus akan tiba beberapa menit sebelum keberangkatan.

 

Malamnya kami menuju Itaewon. Pemandangan yang tampak berbeda ketika turun dari Itaewon Station adalah banyak warga asing disini. Ya, Itaewon memang terkenal sebagai pusat ragam budaya di Korea, termasuk di dalamnya ada komunitas muslim. Kami ke sini untuk mencoba makanan Korea berlabel halal di Muree Muslim Food.  Ini restoran yang paling banyak direkomendasikan diinternet. Tak jauh dari Muree Restaurant ada Masjid Itaewon. Disekitarnya juga banyak restoran halal seperti kebab atau makanan Malaysia.

Saya memesan bibimbap. Saya tau bibimbap karena senang menonton Master Chef Korea. Karena terdiri dari banyak komposisi (nasi, sayuran, daging, saos, dll), biasanya peserta master chef disuruh menebak komposisi bahan-bahan dengan cara mencicipi. Kini giliran saya mencicipi dan menebak bahan-bahannya 🙂

Si ibu pemilik restoran mengajarkan cara menyantap bibimbap. Semua bahan diaduk! Terlihat telur sudah hancur, daging dan sayuran sudah menyatu, dan nasi telah berubah warna menjadi merah sebagai penanda saos bibimbap sudah tercampur merata. Jadilah “nasi campur” bibimbap. Secara konsep, saya menyukai bibimbap. Maksud saya, jika ada bahan yang bisa customized pasti ini akan menjadi makanan favorit saya. Saya kurang menikmati saosnya, mungkin karena saya terbiasa dengan sambal rumahan. Ini hanya masalah selera ya… Jika saosnya diganti dengan sambal buatan adek saya maka bibimbap ini tentu akan jadi makanan favorit saya. Walau begitu, semangkuk bibimbap ini tetap habis saya lahap. Makan nasi camput begini membuat saya teringat Han Ji Eun dalam drama Full House, Ji Eun suka makan nasi campur karena malas memasak. Saya jadi mengkhayal akan mencoba membuat nasi campur sendiri alias my own bibimbap (dengan modified sambal tentunya :-))

 

Hari Keenam….

Karena sudah menandai lokasi bus ke Nami Island, maka kami lumayan tenang. Ketika kami tiba di sana baru terlihat beberapa penumpang saja. Bus berangkat tepat waktu. Saya duduk dideretan belakang, di sebelah saya ada 3 orang ibu-ibu yang juga dari Indonesia. Berarti mereka 3 orang terakhir yang reservasi karena duduknya di samping saya (selamat ibu-ibu, hehehe…). Saya salut kepada mereka karena jalan-jalan tanpa tour guide. Hari sebelumnya mereka dari gunung Seorak. Oya, mereka juga menginap di Novotel Gangnam yang sama dengan kami.

Nami Island terkenal karena kepopuleran drama Winter Sonata. Walau mengikuti setiap episodenya, saya bukan die hard fans drama tersebut, malah agak bosan dengan alur ceritanya. Tapi kurang afdol rasanya jika ke Korea tidak ke pulau ini, maka datanglah kami kemari. Semacam menggugurkan kewajiban, hehehe…

Enaknya naik shuttle bus kita akan langsung sampai di depan dermaga. Online tiket yang kami beli sudah termasuk tiket ferry. Memasuki pulau ini seolah-olah masuk ke negara lain. Tiket masuknya dianggap sebagai visa. Gate di dermaga tertulis imigration. Dan Nami-nya sendiri dinamakan “Naminara Republic” yang memiliki bendera dan mata uang sendiri. Keunikan itu tentu menjadi daya tarik tersendiri. Dua jempol untuk kreativitasnya mengemas pariwisata, sampai-sampai antrian naik ferry bisa sepanjang ini…

Musim semi di Nami Island menurut saya tak terlalu istimewa, satu-satunya nilai plus mungkin cuacanya yang sejuk. Lain halnya saat winter yang menghadirkan pemandangan salju yang menawan. Atau pada saat autumn dengan ciri khas dedaunan yang berubah warna menjadi kuning dan merah. Tapi nama besar Nami Island mampu mendatangkan pengunjung di setiap musim.

Sejatinya, karena pulau ini merupakan pulau cinta-nya Winter Sonata, maka ada banyak pengingat yang ditampilkan: patung pemerannya, sepeda berwarna kuning, dan properti lainnya. Okelah buat yang ingin bernostalgia 🙂

 

Nami adalah pulau yang ramah. Saat naik ferry kita akan di sambut dengan bendera merah putih yang bersanding dengan bendera negara lainnya. Ketika tiba di pulau terpajang ucapan “SELAMAT DATANG”. Jika lapar tersedia restoran halal dengan menu masakan Korea dan juga nasi goreng. Dan yang tak kalah penting, ada ruang shalat yang nyaman dan bersih.

 23

Setelah puas berkeliling, kami kembali ke Seoul menggunakan kereta dari statiun Gapyeong. Dari dermaga ke stasiun menggunakan taksi. Sore dan malam terakhir kami manfaatkan untuk jalan-jalan di seputaran Gangnam sekaligus packing barang bawaan.

Seminggu sudah kami di Korea dan besok pagi akan kembali ke Indonesia. Jika ada kesempatan lain, saya masih ingin berkunjung ke Korea, mungkin di musim salju atau musim gugur. Annyeong hasimnika, Korea 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Jalan-Jalan ke Korea, Part 6: N Seoul Tower, Nami Island, dan Halal Bibimbap

  1. halo mas.. salam kenal.. saya menikmati sekali membaca pengalamannya ke korea dari part 1 sampai part 6.. seru banget ya kayaknya.. gak ketemu sama artis korea di sana mas? hehe.. boleh saran ya mas.. kalau bisa dilengkapi dengan rincian budget liburannya.. pasti sangat berguna bagi yang ingin travelling ke korea… terimakasih.. 🙂

    1. Seru dan pegel2, hehehe… Disana kayaknya wajah artis semua deh, sampai ke penjaga toko 🙂

      Siappp, coba nanti additional part saya buat itinerary plus budget-nya deh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s