China

China Series Part #2: Keliling Beijing

Bullet train dari Shanghai tiba di Beijing South Station pada pukul 18.25, sesuai dengan jadwal yang tertera pada tiket. Kami akan menginap di Hotel Novotel Beijing Peace di dekat Wangfujing Street, berjarak 10 km dari stasiun. Kami berencana naik taksi untuk menuju hotel supaya bisa langsung istirahat. Kalau naik subway repot geret koper naik turun tangga, ditambah lagi takut nyasar karena belum tau alamat. Maklumlah disini tidak ada google atau maps :-(.

Kami menuju jalur taksi. Sesampainya disana kami langsung “diserbu” para sopir. Mereka menawarkan harga 250 CNY atau sekitar 500.000 rupiah, fixed price. Gak masuk akal, kami minta mereka menggunakan argo (taximeter) tapi mereka menolak. Ya sudah, daripada bertengkar akhirnya kami mundur dan memutuskan naik subway.

Untungnya saya sudah menyiapkan rute naik subway. Ada beberapa alternatif untuk menuju Novotel. Pilihan pertama, turun di Dengshikou Station. Dari sini jalan kaki sekitar 300 meter ke hotel, tapi harus 3 kali ganti subway. Pilihan kedua, turun di Stasiun Wangfujing dengan 2 kali berganti subway. Kami memilih pilihan kedua.

Kami turun di Stasiun Wangfujing, keluar dari kereta langsung berada di dalam mal (Wangfujing Station terhubung dengan mal). Setelah berkeliling, kami  menemukan pintu keluar mal yang diinginkan, yaitu arah Wangfujing Street, pedestrian terkenal di Kota Beijing. Kami susuri jalan Wangfujing ini, menurut peta yang saya print, arahnya lurus saja, setelah 2 kali perempatan belok kanan. Saya sempat bertanya beberapa kali, tapi umumnya warga sini banyak yang menolak kalau ditanyai.

Suasana pedestrian masih ramai, toko-toko masih buka. Ada satu yang menarik minat yaitu toko Li Ning, toko olahraga terkenal China. Karena misi utama adalah menemukan lokasi hotel maka pandangan saya tetap fokus mencari hotel. Nanti setelah santai mesti balik lagi ke toko itu, mau membeli jersey team Badminton China 🙂

Setelah berjalan cukup jauh, dipersimpangan jalan kami belok kanan. Dari kejauhan tampak tulisan Novotel . Hati riang, hal pertama yang dilakukan adalah mandi dan makan malam.

Jam 21.30 malam, mata belum mengantuk. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan keluar melihat-lihat area Wangfujing. Bukan hanya di jalan utamanya, kami bahkan menyusuri gang-gangnya. Sayangnya pertokoan sudah banyak yang tutup. Ada beberapa street food yang masih buka, salah satunya kios minuman bernama Dazzle Fruit. Kami mampir. Setiap menu ada gambarnya, jadi tinggal tunjuk saja minuman yang mau dipesan. Saya memesan  yogurt dengan toping aneka buah. Segar banget meskipun suasana malam ini begitu sejuk. Selama 3 hari di Beijing, kami selalu mampir disini setiap malam. Selain karena rasanya yang enak dan segar, penjualnya juga friendly.

#Day 4

Setelah tidur nyenyak, hari ini kami akan keliling Beijing. Sesuai itinerary, tujuan kami hari ini adalah city tour dengan rute sebagai berikut:

  1. Novotel Beijing Peace
  2. Forbidden City
  3. Beijing Zoo
  4. Summer Palace
  5. Bird’s Nest Stadium
  6. Tiananmen Square
  7. Novotel Beijing Peace

Objek-objek tersebut dapat dijangkau dengan bus ataupun subway. Tapi karena waktu terbatas dan ingin cepat sampai, maka kami memutuskan naik taksi saja, dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sebelum berangkat, kami sarapan dulu dengan sisa perbekalan: rendang, teri,  kering tempe, dan telor asin. Tidak seperti di Jepang atau Korea, disini cukup sulit menemukan penjual nasi. Kalau di Korea atau Jepang, di convenience store-nya banyak yang menjual nasi siap saji. Saya masuk ke beberapa convenience store. Yang ada cuma beras kiloan yang belum dimasak. Untungnya ada buah, jadi saya membeli buah dan air minum. Kemudian saya berjalan ke gang belakang, alhamdulillah banyak warung-warung makan. Dengan berkomunikasi seadanya, sambil menunjukkan gambar nasi dari hp, saya berhasil membeli nasi putih 🙂

Forbidden City

Kami diantar oleh taksi sampai di gerbang luar forbidden city. Dari sini menuju pintu masuk masih cukup jauh, masih harus jalan kaki sekitar 1.5 km. Belum apa-apa sudah pegal (ditambah cuaca yang terik). Untungnya semua orang juga berjalan kaki sehingga tidak bisa komplain 😉

Setelah tiba di gerbang utama, kami mengantri tiket. Baru jam 9 pagi, antrian sudah panjang. Heran juga, kenapa banyak banget pengunjungnya. Mungkin karena long holiday hari buruh. Dari wajah-wajahnya mereka adalah turis lokal. Banyak juga pengunjung yang berumur separuh baya. Masa’ mereka belum pernah kesini?

Setelah setengah jam mengantri, kami mendapatkan tiket masuk seharga CNY 60. Kami menuju gerbang utama. Lagi-lagi ada antrian panjang untuk masuk. Mudah-mudahan objek ini cukup worth it, setimpal dengan perjuangan yang melelahkan ini 🙂

Antrian Pembelian Tiket

Pintu Masuk

Kesan pertama, saya takjub. Bangunan peninggalan masa lalu yang megah dan kokoh. Tempatnya luas, ada 980 bangunan pada lahan seluas 720.000 m2. Setiap banguan memiliki detail-detail yang indah.

Secara harfiah, forbidden city memiliki arti sebagai kota terlarang. Dahulu kala, pada periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing, tempat ini merupakan istana raja. Disebut “terlarang” karena hanya orang-orang tertentu yang bisa keluar/masuk istana. Dan disebut sebagai “kota” karena kompleks ini sangat luas.

Menurut saya tempat ini oke untuk dimasukkan dalam list, tapi bukan tujuan utama saya. Bagi pecinta sejarah, mungkin enjoy seharian disini. Saat berkunjung, jangan lupa siapkan perbekalan makanan dan minuman agar tidak lapar dan dehidrasi. Kami makan siang disini dengan membawa perbekalan rendang.

Beijing Zoo

Kemudian kami menuju Beijing Zoo untuk melihat panda. Masuk dan keluar forbidden city tadi mengantri panjang, sekarang di Beijing Zoo juga menganti panjang. Mungkin kami berkunjung pada waktu yang salah, atau memang setiap objek disini selalu ramai. Kami membeli tiket masuk zoo plus panda hall seharga CNY19.

Hasrat melihat panda terbayar tuntas. Mereka lucu dan menggemaskan. Ada yang sedang tidur, ada yang sedang makan bambu, dan ada yang sedang bermain.  Semoga saja tidak akan punah. Wishlist selanjutnya adalah mau melihat pamda dihabitatnya langsung di Chengdu. Semoga saja segera terkabul.

Summer Pallace

Kemudian kami melanjutkan ke utara menuju Summer Pallace.  Disini pengunjungnya juga banyak. Rasanya seperti pergi ke tempat hiburan saat libur hari raya, rame banget. Kalau forbidden city merupakan istana dan tempat tinggal raja, summer pallace adalah tempat peristirahatan/ piknik raja dan keluarganya. Maka sudah pasti tempat ini indah. Harga tiket masuk CNY 30, untuk masuk taman dan aula-aulanya ada biayanya lagi.

Daya tarik utamanya adalah danaunya. Disekelilingnya ada taman dengan pohon-pohon yang rindang. Suasananya yang asri cocok sebagai tempat untuk berlibur di musim panas, makanya banyak pavilion-pavilion peninggalan kerajaan . Di musim-musim lain tentunya juga oke. Menurut teman saya yang berkunjung saat winter, danaunya berubah menjadi arena bermain sky.

Bird’s Nest Stadiun

Dari wisata sejarah, kami melanjutkan ke bagian modern Beijing, yaitu National Stadium atau yang dikenal juga dengan nama Bird’s Nest Stadium. Bangunan ini merupakan icon dari Olimpiade 2008 yang mana Beijing sebagai tuan rumahnya.

Dari drop off point taksi atau kendaraan umum, kita dapat memasuki area ini dengan menggunakan kereta keliling. Tapi susah untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang cara membeli tiketnya. Kami membeli tiketnya sekaligus tiket masuk stadion dengan biaya CNY 40.

Bangunannya megah dan cantik. Seperti namanya, bentuknya seperti sarang burung. Salah satu mahakarya modern terbaik.

Tiananmen Square

Hari semakin sore, kami kembali lagi ke pusat kota menuju spot terakhir yaitu Tiananmen Square. Tiananmen Square ini berada di depan forbidden city. Kenapa kami tidak kesini setelah dari forbidden city tadi pagi? Kami sengaja mengunjungi  sore hari supaya bisa melihat upacara penurunan bendera oleh tentara tentara China.

Tiananmen Square adalah alun-alun kota. Luasnya 44 hektar. Ini menjadi alun-alun terbesar yang pernah saya kunjungi. Menurut saya, tidak terlalu istimewa, hanya tempat nongkrong saja. Tapi, tempat ini mememiliki nilai historis bagi warga China yang menginginkan demokrasi.  Pada  4 Juni 1989, terjadi unjuk rasa besar-besaran oleh puluhan ribu demonstran. Mereka berkumpul di lapangan ini, dikabarkan ada ribuan orang yang meninggal.

Setelah semua tempat dikunjungi, kami pulang ke hotel. Dalam perjalanan pulang, sekitar 100 meter dari hotel saya melihat streetfood yang penjualnya memakai jilbab. Penasaran, saya tanya apakah makanannya halal? Iya, katanya. Alhamdulillah, kami diberkahi mendapat tambahan makanan halal. Menu yang dijual ayam dan daging. Kami membeli daging tumis yang wanginya membuat lapar.

 

Sekian untuk hari ini. Besok kami akan ke Great Wall, Tembok Besar China, objek yang menjadi alasan utama kami kesini.

One thought on “China Series Part #2: Keliling Beijing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s