China

China Series Part #3: The Great Wall

Sudah lama China terkenal dengan Great Wall atau Tembok Besar-nya. Ketika SD, kita belajar tentang 7 Keajaiban Dunia: Ada Borobudur di Indonesia, ada Tembok Besar China, dan lain-lain. Saya tidak pernah bermimpi bisa kesini. Bisa mengunjunginya adalah sebuah rejeki yang sangat saya syukuri.

Great Wall dibangun pertama kali pada sejak tahun 722 sebelum masehi. Menurut beberapa referensi, panjangnya lebih dari 21.000 kilometer. Panjang tersebut tidak membentang satu kesatuan, melainkan gabungan dari keseluruhan tembok-tembok yang ada. Temboknya dibangun silih berganti oleh berbagai dinasti selama ribuan tahun. Banyak bagian-bagiannya yang tinggal cerita atau hanya menyisakan reruntuhannya saja.

Menurut referensi lain, panjangnya sekitar 8.000 kilometer. Ini yang lebih populer. Tembok sepanjang 8000 km ini merupakan peninggalan Dinasti Ming (1368–1644).  Beberapa bagian juga ada yang sudah direstorasi karena termakan usia.

8000 kilometer itu sepanjang apa? Saya mengukur panjang pulau Jawa dari barat ke timur melalui g-maps. Dari Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten sampai Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur jaraknya 1.161 kilometer. Artinya, The Great Wall ini 7 kali lebih panjang dari pada pulau Jawa.

Ada banyak “pintu masuk” menuju Tembok Besar China. Dua yang paling populer adalah melalui Badaling dan Mutianyu. Saya memilih Badaling karena aksesnya paling gampang, bisa naik bus atau kereta. Tapi karena aksesnya lebih mudah, pengunjungnya paling ramai.

Kami memilih menggunakan bus. Dari Novotel kami naik taksi menuju Deshengmen Bus Terminal. Dari sini, naik bus  nomor 877 atau 919 . Bus 877 beroperasi setiap hari dari jam 06.30-12.30 dengan biaya CNY 12. Sedangkan Bus 919 beroperasi setiap hari dari jam 06.00-17.00 dengan biaya CNY 13. Bus 877 lebih cepat karena non stop, sedangkan bus 919 akan berhenti di 13 titik.

Kami tiba di terminal jam 11.00 dan langsung mencari bus tujuan Badaling. Disana banyak taksi yang sedang mangkal. Ketika kami menuju bus-bus yang sedang parkir, beberapa sopir taksi menghampiri dengan mengatakan kalau bus ke Badaling sudah tidak ada, mereka menawarkan naik taksi. Kami tidak percaya, saya sudah membaca info scam seperti ini sebelumnya. Kami berjalan menuju loket bus dipojokan. Petugas loket mengatakan tunggu saja,tetapi mereka tidak memberikan info kapan ada jadwal berikutnya. Sopir taksi masih menguntit kami. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya ada pengumuman bus yang akan berangkat, yaitu bus nomer 877. Kamipun segera masuk bus diiringi rintikan hujan. Layaknya di Indonesia, disini juga ada pedagang asongan. Selain menjual minuman, ada juga yang menjual jas hujan plastik seperti yang dijual di indomaret. Harganya pun murah, yaitu CNY 20 untuk 3 buah. Kami membelinya sebagai antisipasi persiapan hujan.

Sepajang perjalanan dilalui dalam keadaan hujan. Untungnya saat tiba di Badaling hujannya berhenti. Sisa-sisa curah hujan masih membasahi jalanan.

Ada beberapa cara naik ke Badaling Great Wall: dengan slide car, dengan cable car, atau dengan jalan kaki/ hiking. Loket pembelian tiketnya berbeda-beda, jadi jangan sampai salah loket. Kami berencana hiking saja. Saya melihat loket pertama setelah berjalan sekitar 500 meter, ternyata ini loket pembelian tiket slide car. Loket untuk pejalan kaki masih 500 meter dari sini. Dan loket untuk  tiket cable car yang paling jauh, sekitar 1 km.

Kemudian kami masuk ke dalam gang bertuliskan “Entrance to Great Wall”. Ternyata ini “jebakan”. Ini bukan jalan utama, melainkan jalan berliku-liku diantara toko barang cinderamata. Memang di ujung jalan nanti akan ada jalan menuju loket, tapi terlebih dulu kita “dipaksa” untuk melihat cinderamata yang mereka jual. Setelah keluar dari “jebakan”, kami menemui jalan tanjakan beraspal khusus pejalan kaki. Ikuti jalan itu sampai menemukan loket Badaling Great Wall.

Kami membeli tiket seharga CNY 40.  Sebelum mendaki, kami makan siang dulu lalu tak lupa ke toilet. Toiletnya bersih dan nyaman.

Sesuai prediksi, pengunjungnya ramai. Di pintu masuk, ada dua pilihan: ke utara atau ke selatan. Umumnya pengunjung memilih jalur utara karena lebih landai. Untuk menghindari keramaian, kami memilih jalur selatan. Meskipun ada bagian-bagian yang curam, tapi disediakan handrails untuk pegangan. Jadi medannya masih bisa ditaklukkan. Lumayan berkeringan dan bikin pegal, tapi menyenangkan 🙂

Arah Utara
Arah Utara

Kami berkunjung pada awal May (akhir musim semi), cuacanya sejuk dan pepohonan rindang berwarna hijau. Pemandangan yang bagus banget. Kami berjalan sampai area yang tidak boleh dimasuki pengunjung.

  

Tak lama kemudian langit mendung dan turun rintik-rintik hujan. Untung kami membawa jas hujan. Langit yang tadinya cerah seketika berubah berkabut. Kamipun memutuskan untuk pulang.

Bus di Parkiran

Kembali Ke Beijing

Setibanya di Deshengmen Bus Terminal, kami melanjutkan naik subway menuju Wangfujing. Kami akan menutup perjalanan di Beijing dengan makan di restoran halal terkenal bernama “Dong Lai Shun Muslim Restaurant”. Logo restoran ini terlihat jelas ketika kita keluar dari Wangfujing Mall.

Saya kaget melihat pengunjungnya yang sangat ramai. Dari luar, restorannya terlihat kecil. Tapi di dalamnya ternyata sangat besar. Saat itu saya perkirakan pengunjungnya mungkin ratusan orang dengan staf karyawan yang juga sangat banyak dan terlihat sangat sibuk. Setelah googling, ternyata restoran ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak tahun 1903. Maklum saja pengunjungnya sangat ramai.

Menu andalannya adalah hot pot yang berisi kuah kaldu yang akan dicampurkan dengan daging dan sayuran. Pengunjung dibiarkan memasak sendiri menggunakan hot pot yang berbahan bakar arang. Sejujurnya saya agak terganggu dengan banyaknya minuman beralkohol yang dipajang. Tapi karena ada logo halal dipintu masuk maka kami tetap meyakini makanannya halal.

Pulang

Perjalanan ke China kali kedua selesai sudah. Setelah mengambil titipan koper di hotel, kami menuju bandara menggunakan kereta Beijing Airport Express dari Dongzhimen Station. Harga tiketnya CNY 25.

Di dalam ruang keberangkatan Beijing Capital International Airport terdapat mushola yang dilengkapi petunjuk arah kiblatnya dibagian lantai. Cukup nyaman untuk menjamak sholat disini.

Lokasinya di dekat Gate 8
Lokasinya di dekat Gate 8
Bagian dalam Prayer Room
Bagian dalam Prayer Room

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s